www.bigoo.wswww.bigoo.wswww.bigoo.ws
ima

Sabtu, 08 Agustus 2009

EMANSIPASI WANITA

Wanita adalah mayoritas dari umat manusia, namun di mana-mana mereka adalah korban diskriminasi sistematis dan penindasan. Di berbagai bagian di dunia, perempuan hampir seluruhnya terkungkung di dalam rumah, dirampas hak demokratis dan ekonomi dasarnya, dipaksa melakukan pekerjaan rumah tangga tanpa upah dan menanggung risiko menjadi korban penindasan dan kekerasan dari kaum lelaki.

Di negara-negara lain, wanita menanggung dua beban: yaitu sebagai buruh dan sebagai ibu rumah tangga, kehidupan yang penuh penderitaan. Buruh wanita seringkali dibayar lebih sedikit daripada buruh laki-laki. Di pabrik-pabrik di Dunia Ketiga, buruhwanita dianiaya secara rutin, tidak diperbolehkan mengambil cuti hamil dan mendapat perlakuan yang meremehkan.

Mayoritas wanita hanya akan bebas dari penindasan dan diskriminasi apabila landasan ekonomi dari keunggulan laki-laki dihancurkan. Akar dari penindasan ini terdapat dalam masyarakat kelas dahulu kala dan hingga saat ini, diteruskan dan diperkuat oleh kapitalisme global.

Hanya masyarakat sosialislah yang berlandaskan kebutuhan manusia dan bukan keuntungan pribadi, yang dapat mengalihkan beban pekerjaan rumah tangga yang pada saat ini dilakukan mayoritas oleh perempuan di rumah – agar menjadi beban masyarakat bersama.

Sebuah masyarakat sosialis akan merencanakan tugas-tugas seperti memelihara anak, menyediakan makanan untuk keluarga dan mencuci pakaian secara kolektif, sehingga tugas-tugas ini tidak usah lagi dilakukan secara terpisah oleh jutaan unit-unit keluarga yang terkucil satu dari yang lainnya. Dengan menyediakan fasilitas untuk makan, mencuci pakaian dan memelihara anak secara kolektif, dengan dana yang cukup dan dijalankan secara demokratis - tugas-tugas tersebut dapat dilakukan pada standar yang mungkin berkali lipat lebih baik daripada yang terdapat dalam berbagai keluarga saat ini. Dengan demikian, terdapat pilihan yang riil, standar hidup yang lebih tinggi dan kesetaraan antara wanita dan laki-laki yang dapat menggantikan kemiskinan, keterkucilan dan penindasan yang dialami oleh banyak wanita kelas buruh saat ini.

Revolution berjuang untuk:

mencegah adanya penindasan terhadap perempuan dalam Revolution dan dalam aliansi atau fron bersatu yang kami bentuk dengan kelompok-kelompok lainnya.

Melawan perlakuan perempuan sebagai benda di media.

Hak setara bagi perempuan – hak memilih, hak bekerja, hak untuk dididik, hak tak terbatas untuik berpartisipasi dalam semua kegiatan publik dan sosial.

Upah yang setara untuk pekerjaan yang setara

Layanan pemeliharaan anak yang gratis tersedia selama 24 jam yang didanai melalui pajak terhadap orang kaya.

Kontrasepsi yang tersedia kapanpun bila diperlukan.

Aborsi yang tersedia kapanpun bila diperlukan.

Hak perceraian yang cepat dan sederhana dengan pembagian sumber daya/kekayaan rumah tangga secara adil apabila diminta oleh salah seorang (suami atau istri).

Adanya gerakan perempuan kelas buruh yang berjuang dengan laki-laki melawan diskriminasi berdasarkan jender dan melawan penindasan terhadap perempuan.

Hak perempuan bermusyawarah dalam organisasi-organisasi kelas buruh.

Hak perempuan dan laki-laki untuk mendapatkan tunjangan agar dapat meninggalkan hubungan di mana terdapat kekerasan rumah tangga.

Aksi-aksi lokal untuk membela korban kekerasan rumah tangga dan untuk menanggapinya secara serius, dibandingkan dengan cara penanganan saat ini oleh polisi dan hukum.


Dikutip. Dari Revolution.com

Minggu, 05 Juli 2009

Penyakit Hipogenetik Rendahkan Wanita

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Sulawesi Tengah (Sulteng), dr Abdullah DHSM, mengajak semua elemen masyarakat di daerahnya untuk memulai memutuskan penyakit "Hipogenetik", guna mendorong kaum lelaki menghargai program pengarusutamaan jender (PUJ).

"Perlu kita putuskan, sebab penyakit ’turunan’ dari dulu ini tidak disadari sudah menurunkan derajat kaum perempuan," kata dia dalam sebuah acara sosialisasi PUJ di Pal.

Penyakit hipogenetik, menurut dr Abdullah, yaitu sebuah perilaku yang hanya terus berharap. Penyakit ini banyak diidap oleh kaum laki-laki dan dampaknya sudah merugikan orang lain, terutama kaum perempuan.

Misalnya, ketika ingin minum teh di rumah, si suami hanya berharap dibuatkan oleh sang istri atau anak perempuannya, padahal pekerjaan ringan semacam ini dapat dilakukannya sendiri.

Demikian pula jika hendak berangkat ke luar kota, si suami berharap kepada sang istri untuk memasukkan pakaian dan perlengkapan lainnya ke dalam koper.

"Ini sesuatu ketidakadilan gender, karena sudah mengabaikan hak-hak kaum perempuan," tuturnya.

Karena itu, katanya, semua laki-laki harus memahami kalau pekerjaan keseharian yang dilakukan perempuan tidak seringan seperti yang sering disaksikan, dan mereka pun memiliki hak yang mesti dilindungi oleh semua pihak.

"Coba bandingkan. Pekerjaan yang dilakukan seorang suami yaitu dari terbit matahari sampai terbenam matahari. Tapi pekerjaan istri yaitu dari terbitnya mata suami hingga terbenamnya mata suami," tuturnya melukiskan betapa beratnya pekerjaan seorang perempuan.

Ia menambahkan, negara sendiri sudah memberikan jaminan perlindungan terhadap hak-hak kaum perempuan, seperti persamaan dalam memperoleh pendidikan, kesehatan, pekerjaan, cuti, sampai kepada perlindungan keamanan terhadap dirinya.

"Jadi, tinggal laki-laki di dalam rumah dan di luar rumah yang menerjemah dan merealisasikan dalam bentuk pemberian perimbangan peran," katanya.

Menurut Abdullah yang mantan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng ini, untuk menghilangkan penyakit hipogenetik itu perlu dimulai dari diri sendiri dan dilakukan secara perlahan-lahan. Juga, paling bagus diawali dari rumah sendiri.

"Saya kira jika sudah terbiasa akan menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi diri sendiri dan orang lain di dalam rumah. Bahkan pekerjaan seperti membuat teh sendiri dan menyapu itu justru jika dilakukan secara rutin akan menyehatkan tubuh," katanya.


Dikutip dari Kompas.com

Senin, 30 Maret 2009

gadiz pengejar mimpi


Hidup adalah perjuangan begitu juga seseorang yang mempunyai mimpi, dan mimpi adalah perjuangan,ada hidup pasti ada mimpi. Berbahagialah orang - orang yang mempunyai mimpi berarti dia hidup,artinya jika seseorang mempunyai mimpi pasti hidupnya diwarnai dengan perjuangan untuk mengejar mimpi, tetapi hidup tidak mempunyai mimpi bagaikan mayat hidup yang bernafas. Jadi berlomba - lombalah untuk mengejar mimpi kita dan berusaha menjadi manusia yang lebih baik, walaupun itu tidak mudah.....dan sekali lagi perlu PERJUANGAN...............................ITU sebuah arikel sederhana untuk spirit diri aku,dan mungkin bisa diterima orang lain..........................
myspace layouts

myspace layout codes